Sebuah Kisah Masa Lalu dan Kisah Untuk Masa Depan
Bismillahirrahmanirrahim
Deeptalk dengan anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan. Kalau dengan anak perempuan yang sudah terbuka dengan ibunya, dengan sendirinya, bercerita panjang lebar apa yang ia alami dan rasakan. Ibu cukup mendengarkan dengan seksama dan tunjukkan antusias dengan tidak bermain hape saat anak bercerita. Setelah selesai anak curhat atau berkisah, baru kita masukkan hikmah atau nasihat. Ini bisa memakan waktu belasan bahkan puluhan menit, dan bisa terjadi beberapa kali sehari.
Dengan anak laki-laki yang lakik banget, hehe, deeptalk itu ge-pe-el, ga pake lama, cukup lima menit asal satu nasehat tersampaikan itu cukup. Mengapa dibilang lakik banget, karena anak laki-laki ini logikanya sangat dominan sekali, dan usilnya minta ampun ke adiknya.
Satu waktu, saat sahur, sang ibu melihat anak laki-laki makan sambil nonton film kartun anime di hapenya.
Ibu tanya, "Film apa itu, A'?"
Anak menjawab, "Film kayak detektif Mi, memecahkan masalah."
Ibu merespon, "Oh, kayak Detektif Conan ya?"
Anak segera menjawab, "Iya, tapi ini bukan detektif, ini beberapa anak laki-laki, tapi punya banyak teman detektif, polisi, dan lainnya."
Ibu, "Eh Mami lama enggak dengar bahasa Jepang, padahal dulu Mami bisa berbahasa Jepang."
Anak lalu bertanya, "Mami dulu jurusan bahasa?"
Mami menjawab, "Bukan. Mami dulu kerja di kantor JICA, Japan International Cooperation Agency, di Jakarta, selama hampir satu setengah tahun, di Jakarta, sebelum kerja di Cirebon. Bos Mami itu orang Jepang asli, dosen S3 mau profesor, sedang tugas di Indonesia. Mami diajarin bahasa Jepang karena Mami mau sekolah S2 di Jepang waktu itu. Bos Mami yang akan menerima Mami di Jepang."
Anak lalu menoleh ke ibunya, entah heran entah penasaran, "Terus?"
Ibunya lalu berbisik pelan, "Tapi Mami enggak jadi S2 ke Jepang, karena ga dibolehin ma Eyang Mama."
Eyang mama kebetulan sedang di dalam kamar dekat ruangan tempat sang ibu dan anak berbincang.
Anak penasaran, "Kenapa?"
Ibunya menjawab, "Karena Eyang Mama khawatir Mami menikah dengan orang Jepang. Tapi sama Allah Mami diganti dikasih Aa' dan Adek, yang ternyata sekarang belajar Al Qur'an di pondok."
Anak laki-laki ini memang tidak banyak bicara, ia terdiam.
Ibunya meneruskan, "Oiya kelak Aa' boleh kuliah sampai profesor, tapi tetap harus belajar Al Qur'an ya. Karena kata Ustadz Adi Hidayat : Sekolah setinggi apapun sampai profesor pun, kalau tidak belajar Al Qur'an sama saja otaknya masih kosong."
Ibunya menambahkan, "Karena ilmu di dunia ini pada dasarnya sudah tertulis di ayat-ayat Al Qur'an."
Adzan subuh dari masjid mulai terdengar, deeptalk pun berakhir.
Nasehat tersebut disampaikan agar anak selalu mengingat Allah, mau terus menjaga ilmunya dan minimal tetap rajin tadarus. Bagaimana pun juga jika selama di hidup dunia dekat dengan Al Qur'an, dalam arti rajin membaca, belajar tafsir, dan atau menghafal, kelak di alam kubur amalan Al Qur'an ini yang akan menerangi alam kubur kita, menjadi syafa'at untuk kita. Perjalanan di akhirat itu jauh lebih lama dan akhirnya kekal, mari kita siapkan bekalnya.
Sebagai ibu, selama masih hidup di dunia ini, masih harus terus ikhtiar mendoakan anak-anak agar mendapatkan takdir terbaik di dunia dan akhirat.
Allahumma baarik alaih.
Wa barakallahu fiikum.
Salam Vibe Ramadhan.
Seperti biasa, custom cake bisa dipesan di Mia Sweet ya. Tanya/order melalui whatsapp di 0818433549.
Love,
Mia Sweet


Komentar
Posting Komentar