Anak-anak Belajar dari Zola dan Chester
Bismillahirrahmanirrahim.
Beberapa tahun yang lalu, dua anak kami, Sulthan saat masih duduk di kelas 5 SD dan Mia di kelas 4 SD, menginginkan memelihara sugar glider, tapi ternyata harganya sangat mahal, akhirnya anak-anak ganti minta memelihara tupai jenis bajing kelapa. Awalnya saya keberatan karena di rumah sudah ada dua kucing betina bernama Oren dan Bubu. Saya mengkhawatirkan tupai akan diincar oleh kucing. Tapi anak-anak berjanji akan menjaga tupai dan meminta tupainya dimasukkan kandang saja. Akhirnya saya membelikan sepasang tupai kecil jenis bajing kelapa. Kedua tupai diberi nama Zola (jantan) dan Chester (betina) .
Zola dan Chester memiliki bulu berwarna coklat kehitaman, mereka adalah tupai yang pintar, lincah, jinak, dan mengeluarkan suara cit cit saat lapar dan bermain dalam kandang. Pagi-pagi bagai alarm alami berbunyi cit cit cukup keras tanda dua tupai sudah bangun dan minta makan, sekaligus membangunkan anak-anak. Tupai jenis bajing kelapa ini adalah pemakan buah-buahan. Karena ada tupai jenis pemakan serangga. Zola dan Cester sangat menyukai segala jenis buah-buahan. Saat cukup besar, kedua tupai sering dikeluarkan dari kandang di siang hari sepulang anak-anak sekolah, untuk diajak bermain di dalam rumah, halaman dan pohon mangga depan rumah, sambil diawasi oleh Sulthan dan Mia karena ada kucing kan. Jika kedua tupai lucu ini dipanggil langsung naik ke tangan, baju, atau bahu anak-anak. Biasanya kedua tupai diajak bermain sebelum diberi makan siang, jadi setelah lelah bermain, dengan cara diiming-imingi buah, mereka mau kembali ke tangan anak-anak, dan akhirnya dimasukkan kembali ke kandang. Hingga suatu siang, saat kandang tupai baru dibuka oleh Sulthan, seperti biasa kedua tupai langsung lari ke menuju pohon mangga. Sayangnya, Bubu ternyata sudah menghafal ritme kegiatan kedua tupai ini, dan hap Chester ditangkap Bubu dengan mulutnya dan dibawa lari. Sulthan langsung menelpon ke telepon genggam saya, mengabarkan kalau Chester mati ditangkap Bubu. Saya dan Mia kebetulan sedang di luar rumah, dengan segera saya putar balik mengendarai motor pulang ke rumah. Di perjalanan, Mia sangat panik berharap Chester tidak mati. Sampai rumah, Sulthan yang tadinya hanya duduk menunggu di bawah pohon, sambil memegang Chester yang berhasil direbut dari Bubu tapi sudah tidak bernyawa, begitu melihat saya, Sulthan dan Mia menjadi histeris menangis dengan keras dan sangat sedih. Saya bilang kembali ke anak-anak bahwa sebelum beli tupai sudah Mami (saya) ingatkan makhluk yang bernyawa pasti mati, bukan salah Bubu, karena tupai termasuk binatang incaran kucing, dan ini adalah takdir hari di mana Chester harus mati. Oren maupun Bubu tidak pernah kelaparan, karena rutin kami diberi makan. Akhirnya setelah tangis kedua anak ini reda, Chester dikuburkan di bawah pohon mangga. Sedangkan Zola sudah diselamatkan Sulthan dikembalikan ke kandang.
Setelah kejadian itu, Bubu dan juga Oren sempat saya marahi agar tidak mengulangi perbuatannya lagi, untuk tidak mengejar, menangkap maupun memakan tupai peliharaan kami. Saya tidak peduli apakah Bubu dan Oren mengerti atau tidak kata-kata saya.
Beberapa bulan kemudian Zola tumbuh makin besar dan aman setiap main di luar rumah, malah biasanya saya keluarkan sejak pagi dan sore dipanggil oleh Sulthan maupun Mia untuk kembali pulang. Karena tupai mainnya sudah bisa lebih jauh, kadang di pohon kelengkeng tetangga, pernah bermain petak dengan tukang bangunan tetangga yang sedang renovasi rumah tetangga, oleh tukang diberi makanan. Tetangga sudah hafal dengan tupai kami. Zola pun kadang menggoda kucing-kucing untuk mengejarnya, tapi untungnya tupai lucu ini lebih lincah bisa naik ke pucuk pohon-pohon. Hingga suatu sore, Mia memanggil tupainya tapi tetap tidak muncul, saya dan Mia keliling ke sekitar rumah sambil memanggil-manggil nama Zola tetap tidak muncul sampai malam. Esoknya sebelum anak-anak berangkat sekolah dan sepulangnya terus mencari tupai, sampai beberapa hari kami cari terus.
Akhirnya saya bilang ke Sulthan dan Mia yang masih sangat sedih kehilangan tupai, mungkin Zola ingin hidup bebas, atau kalau mati pun karena dimakan binatang lain itu sudah waktunya, yang ikhlas, besok kalau kalian tinggal di surga, bisa minta ke Allah untuk panggil Zola Chester masuk surga dan bertemu lagi dengan Sulthan Mia.
Memutuskan memelihara binatang di rumah, selain mengajarkan anak-anak untuk memahami rantai makanan binatang, merawat, menjaga kebersihan, tanggung jawab, juga mengenalkan konsep hidup dan mati, datang dan pergi di kehidupan ini. Memang sedih dan sakit rasanya saat binatang peliharaan mati ataupun hilang, tapi anak-anak jadi mengerti ada Allah Yang Maha Mengatur Kehidupan di alam semesta ini. Barokallahu fiikum.
(Ditulis oleh : Putri Permatasari, Tugas ke-1, Cerita dari Pena, Level 1, Kelas Kreasi)
CC : Kakak Tentor Rina (Instagram: Ukhti Rina Pujianti), dan Ketua Kelas Windi (Instagram: windimanditi)
---
Ini judulnya bakul kue belajar menulis cerita. Menyalurkan jiwa emak-emak yang kalau cerita panjang kali lebar kali tinggi, lewat ketikan.
Dan yang baca yakinlah jam terbang literasi Anda akan bertambah dengan membaca cerita-cerita saya, hehehe.
Sedikit spill, kelas Kreasi awalnya adalah kelas berkreasi menggunakan AI (Artificial Intelegence), twibbon di atas ya foto pake AI dong, hehe. Ternyata disambung dengan kelas belajar VOT (Voice Of Talent) pemula, dilanjutkan kelas menulis.
Asli ini sih kelas yang memutar otak banget, adrenalin siap siap muncul ketika setiap tugas turun.
Nah, untuk spill harga kue, tanya-tanya maupun pemesanan kue, tetap via WhatsApp ya di 0818-433-549. (Promosi tetap berjalan ya, hehe)
Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar